Jakarta,LIRATV.ID –ย Suasana Halal Bihalal Pengamat yang digelar di Komunitas Utan Kayu, Jakarta Timur, Senin (31/03/26), berlangsung hangat namun sarat dengan kritik tajam terhadap dinamika pemerintahan dan relasi dengan para pengamat.
Acara yang mengangkat tema โSebelum Pengamat Ditertibkanโ ini menjadi ruang refleksi bersama atas pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang beberapa waktu lalu menyinggung wacana penertiban pengamat. Pernyataan tersebut memantik berbagai respons, mulai dari kekhawatiran hingga dorongan untuk memperkuat transparansi dan kebebasan berpendapat.
Dalam kesempatan tersebut, pengusaha Samsul Arifin turut menyampaikan pandangannya secara lugas. Ia menekankan pentingnya pembenahan internal pemerintahan sebagai kunci utama agar aspirasi rakyat dapat tersampaikan dengan baik.
โBersihkan di dalam agar suara bisa sampai. Kalau di dalam tetap kotor, kita bisa jatuh ke jurang yang dalam. Ini harapan masyarakat,โ ujar Samsul.
Menurutnya, publik saat ini sudah mampu menilai berbagai persoalan yang terjadi di lingkar kekuasaan. Namun, ia menilai penyelesaian terhadap persoalan tersebut belum berjalan optimal.
โKita sebagai rakyat sudah melihat mana yang bermasalah, tetapi belum juga di-resolve. Ini yang menjadi pertanyaan besar,โ tambahnya.
Samsul juga menyoroti adanya kesan keraguan dalam pengambilan keputusan di tingkat pemerintahan, termasuk dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang diwarisi dari periode sebelumnya.
Lebih lanjut, ia mengkritisi sejumlah kebijakan yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada penguatan ekonomi rakyat, termasuk keterlibatan unsur tertentu dalam program-program strategis seperti pemberdayaan UMK.
โHarusnya fokus pada keberpihakan kepada rakyat kecil. Jangan sampai kebijakan justru membuat arah ekonomi menjadi tidak jelas,โ tegasnya.
Meski demikian, Samsul tetap menyampaikan harapannya agar Presiden Prabowo dapat segera melakukan langkah perbaikan.
โHarapan kita sederhana, Presiden harus berani menjadi dirinya sendiri, berani mengambil keputusan yang benar, dan tidak mengecewakan rakyat,โ ungkapnya.
Acara ini juga menjadi momentum refleksi bagi para pengamat dan masyarakat sipil, khususnya dalam konteks meningkatnya kekhawatiran terhadap kebebasan berpendapat, terutama pasca insiden penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus dari KontraS.
Diskusi yang berlangsung menunjukkan bahwa kritik dari pengamat bukanlah bentuk perlawanan, melainkan bagian dari upaya menjaga demokrasi dan memastikan jalannya pemerintahan tetap berada di jalur yang benar.




