News  

Ramadhan sebagai Cermin: Peradaban Betawi di Persimpangan Identitas dan Kesatuan

📝 Foto: Istimewa

Oleh: Inspirasi dari Hati Seorang Anak Betawi

Jakarta, LIRATV.ID — Di penghujung malam yang masih pekat, ketika suara sahur menggema dari masjid ke masjid, orang Betawi bangun. Kita bangun bukan sekadar untuk mengisi perut sebelum fajar, tetapi untuk mengisi kesadaran—tentang apa yang kita tahan, dan apa yang justru kita biarkan hilang tanpa perlawanan.

Ramadhan mengajarkan pengendalian diri. Bukan hanya dari lapar dan dahaga, tetapi juga dari perpecahan, kesombongan, dan kelalaian menjaga warisan leluhur. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 183 bahwa puasa diwajibkan agar manusia mencapai takwa. Takwa bukan hanya urusan spiritual, tetapi juga kesadaran kolektif untuk menjaga martabat.

Di kampung-kampung Condet, Kebon Jeruk, hingga pesisir Cilincing, makna puasa terasa lebih dalam. Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya iman pribadi, tetapi juga keberlangsungan identitas budaya. Ketika masyarakat menahan diri dari makan dan minum, ada pertanyaan yang lebih besar: apakah kita juga menahan diri dari merusak persatuan kita sendiri?

Sejarawan besar Ibnu Khaldun pernah menulis dalam Muqaddimah bahwa peradaban hanya dapat berdiri di atas solidaritas sosial—‘ashabiyah. Tanpa solidaritas, peradaban runtuh, bukan karena serangan luar, tetapi karena perpecahan dari dalam.

Hari ini, pertanyaan itu terasa relevan bagi masyarakat Betawi.

Antara Legalitas dan Kehormatan Budaya

Betawi bukan sekadar identitas etnis. Ia adalah fondasi kultural Jakarta. Namun, di tengah berbagai upaya pelestarian, tantangan yang muncul justru berasal dari dalam—persaingan legitimasi, klaim kelembagaan, dan perbedaan tafsir tentang siapa yang paling berhak mewakili Betawi.

Di sisi lain, pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai menunjukkan komitmen baru. Gubernur Pramono Anung telah menyampaikan tekad untuk mengangkat martabat budaya Betawi sebagai bagian utama identitas Jakarta. Wakil Gubernur Rano Karno bahkan tengah mendorong regulasi untuk melindungi simbol budaya seperti ondel-ondel agar tidak lagi diperlakukan sekadar sebagai alat mencari nafkah di jalanan, tetapi sebagai simbol kehormatan budaya.

Kebijakan semacam ini bukan sekadar soal estetika, melainkan soal martabat. Ketika simbol budaya dihargai, masyarakatnya pun ikut dihargai.

Namun regulasi saja tidak cukup. Tanpa persatuan, kebijakan terbaik pun akan kehilangan daya.

Pelajaran dari Masa Lalu

Sejarah Betawi telah menunjukkan contoh kepemimpinan yang mengutamakan kepentingan kolektif di atas kepentingan pribadi. Salah satu tokoh paling menonjol adalah MH Thamrin, yang memperjuangkan kesejahteraan rakyat Batavia melalui jalur politik kolonial, bukan untuk kekuasaan pribadi, tetapi untuk perbaikan kehidupan masyarakat.

Ia memperjuangkan akses air bersih, infrastruktur, dan pengakuan terhadap masyarakat pribumi. Ia memahami bahwa peradaban tidak dibangun melalui klaim, tetapi melalui kerja nyata dan solidaritas.

Begitu pula dengan legenda rakyat Betawi seperti Si Pitung. Ia dikenang bukan karena kekerasannya, tetapi karena keberaniannya melawan ketidakadilan dan membela kaum lemah. Dalam konteks modern, perjuangan itu tidak lagi menggunakan golok, tetapi menggunakan gagasan, regulasi, dan kerja sama.

Musuh terbesar Betawi hari ini bukan penjajah. Musuh terbesar adalah lupa diri—amnesia kolektif terhadap nilai persatuan.

Momentum yang Tidak Boleh Disia-siakan

Indonesia telah memiliki kerangka hukum yang jelas untuk pemajuan kebudayaan, termasuk Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Daerah Khusus Jakarta, yang menegaskan pentingnya pelestarian identitas lokal.

Namun hukum hanya alat. Yang menentukan hasilnya adalah kemauan masyarakat untuk bersatu.

Potensi ekonomi budaya Betawi sangat besar. Dari seni pertunjukan hingga kuliner, dari fesyen hingga pariwisata budaya, semuanya dapat menjadi sumber kesejahteraan jika dikelola dengan baik. Namun potensi itu hanya dapat terwujud jika ada kesatuan visi.

Persatuan bukan berarti menghapus perbedaan. Persatuan berarti menyelaraskan perbedaan untuk tujuan yang sama.

Ramadhan sebagai Cermin Peradaban

Ramadhan adalah latihan peradaban. Ia mengajarkan disiplin, pengendalian diri, dan solidaritas sosial. Puasa adalah pengingat bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada dominasi, tetapi pada kemampuan menahan diri.

Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d: 11, Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.

Perubahan itu dimulai dari kesadaran.

Kesadaran bahwa Betawi bukan milik satu kelompok, melainkan milik semua yang mencintainya.

Kesadaran bahwa budaya bukan warisan untuk diperebutkan, tetapi amanah untuk dijaga.

Kesadaran bahwa peradaban tidak runtuh karena serangan luar, tetapi karena kehilangan solidaritas.

Menyambut Fajar Baru Betawi

Menjelang subuh, ketika azan berkumandang di langit Jakarta, ada harapan yang selalu lahir kembali. Harapan bahwa Betawi akan tetap berdiri, bukan sebagai simbol masa lalu, tetapi sebagai kekuatan masa depan.

Jakarta bukan hanya ibu kota administratif. Jakarta adalah rumah peradaban.

Dan Betawi adalah jiwanya.

Gubernur, ulama, seniman, tokoh masyarakat, dan generasi muda memiliki peran masing-masing. Tidak ada satu pihak pun yang dapat berjalan sendiri.

Sejarah telah memberikan teladan. Regulasi telah memberikan jalan. Kini, pilihan ada pada masyarakatnya.

Apakah kita akan berdiri bersama, atau terpecah oleh ego?

Fajar selalu datang setelah malam tergelap.

Dan di tanah Betawi, harapan itu masih hidup.

Jakarta, di bulan yang diberkati.
Untuk mereka yang menjaga budaya bukan dengan amarah, tetapi dengan cinta. (Redsus/Bar.S)

🚀 Mau Punya Website Media Online Sendiri?

Tapi masih bingung mulai dari mana? Tenang, Ar Media Kreatif siap bantu!

Jasa Pembuatan Website Berita Profesional sejak tahun 2018. Telah membantu ratusan media online yang kini tersebar di seluruh Indonesia.

🎯 Layanan Lengkap:
✔️ Desain modern & responsif
✔️ SEO siap pakai
✔️ Dukungan penuh dari tim teknis

💬 Info & Konsultasi:
Klik di sini untuk WhatsApp


⚙️ Website ini adalah klien Ar Media Kreatif
Didukung penuh secara teknis dan infrastruktur oleh tim AMK.

🚀 Mau Punya Media Online Sendiri?

Tenang, Ar Media Kreatif siap bantu buatkan!

Sejak 2018, telah ratusan media online dibangun & tersebar di seluruh Indonesia.

💬 Konsultasi Sekarang

Didukung penuh oleh Ar Media Kreatif

🚀 Ingin punya Media Online Profesional seperti ini? Ar Media Kreatif siap bantu Anda! 💻