Jakarta,LIRATV.ID – Prosesi pemakaman Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Try Sutrisno, berlangsung khidmat dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Senin (02/03/26). Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto bertindak sebagai inspektur upacara, memimpin langsung penghormatan terakhir bagi almarhum yang pernah menjabat Wakil Presiden RI periode 1993–1998 dan Panglima ABRI periode 1988–1993.
Upacara dimulai sekitar pukul 13.45 WIB setelah penyerahan jenazah dari pihak keluarga yang diwakili oleh putra almarhum, Taufik Dwi Cahyono. Peti jenazah yang diselimuti bendera Merah Putih diantar menuju liang lahat dengan iringan penghormatan militer dan tembakan salvo.
Dalam amanatnya, Presiden Prabowo menyampaikan penghormatan atas nama negara, bangsa, dan Tentara Nasional Indonesia, seraya berharap seluruh amal dan darmabakti almarhum diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan menjadi suri teladan bagi generasi penerus.
Di antara para pelayat yang hadir, Tenaga Ahli di Badan Gizi Nasional, Florencio Mario Vieira, turut memberikan penghormatan terakhir. Dengan penuh haru, Mario mengenang hubungan historis keluarganya dengan almarhum.
“Nama saya Mario Vieira, saya orang Timur-Timur. Kami memiliki sejarah dengan Bapak Try Sutrisno,” ujarnya.
Mario menjelaskan bahwa mertuanya, Brigjen TNI (Purn) Johannes Haribowo, merupakan bagian dari Akademi Militer Nasional (AMN) Angkatan 65 dan pernah berada di bawah pembinaan serta mentorship langsung Try Sutrisno semasa aktif di militer.
“Beliau adalah senior dari mertua saya. Mentor beliau. Atas nama keluarga besar Akademi Militer Nasional (AMN) Angkatan 65 dan seluruh keturunannya, kami menyampaikan duka cita mendalam. Semoga beliau diterima oleh Tuhan Yang Maha Kuasa,” tutur Mario.
Tak hanya hubungan historis dalam kedinasan militer, Mario juga memiliki kenangan pribadi. Ia mengisahkan bahwa almarhum Try Sutrisno pernah hadir dalam acara pernikahannya sebagai bentuk perhatian dan kedekatan dengan keluarga besar Akademi Militer Nasional (AMN) Angkatan 65.
“Itu menjadi memori yang sangat berarti bagi saya dan keluarga,” kenangnya.
Bagi Mario, Try Sutrisno bukan sekadar jenderal atau mantan wakil presiden, tetapi simbol kepemimpinan dan pengabdian.
“Beliau adalah pejuang sejati, cinta tanah air. Pengorbanannya untuk bangsa ini luar biasa. Kita berharap generasi masa depan menjadikan beliau teladan,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai kepemimpinan, integritas, dan semangat kedaulatan kepada generasi muda Indonesia.
“Bangsa ini harus berdaulat dan bermartabat. Nilai-nilai kepemimpinan pada zaman beliau harus bisa ditularkan kepada generasi muda hari ini,” tambahnya.
Kepergian Try Sutrisno di usia 90 tahun meninggalkan duka mendalam, namun juga warisan nilai perjuangan yang akan terus hidup dalam sejarah bangsa. Sosoknya dikenang sebagai prajurit, negarawan, dan pemimpin yang mengabdikan seluruh jiwa raganya untuk Indonesia.






