Oleh: R. HAIDAR ALWI (Pemikir Bangsa/Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Keluarga Alumni ITB)
SOROTAN dari MSCI dan Moody’s terhadap Indonesia pada dasarnya bukan hanya soal angka, tetapi soal kepercayaan. Pasar global bekerja berdasarkan ekspektasi, dan ekspektasi dibentuk oleh persepsi terhadap stabilitas kebijakan, kredibilitas institusi, serta konsistensi arah ekonomi jangka panjang.
Karena itu, upaya memulihkan kepercayaan investor global tidak cukup dilakukan melalui bantahan atau klarifikasi sesaat, melainkan melalui langkah yang menunjukkan bahwa Indonesia tetap berada dalam jalur kebijakan yang dapat diprediksi.
1. Stabilitas Kebijakan dan Arah Fiskal
Langkah pertama yang paling mendasar adalah memperkuat kepastian arah fiskal. Investor global membutuhkan gambaran yang jelas mengenai bagaimana pemerintah mengelola defisit, pembiayaan utang, dan prioritas belanja dalam beberapa tahun ke depan.
Roadmap fiskal jangka menengah menjadi penting karena memberi sinyal bahwa ekspansi belanja negara tetap berada dalam batas yang terukur. Ketika arah fiskal jelas, risiko persepsi terhadap stabilitas makro akan menurun, dan biaya risiko yang biasanya dibebankan investor terhadap aset Indonesia dapat ikut mereda.
2. Konsolidasi Narasi Ekonomi Pemerintah
Namun stabilitas kebijakan tidak akan efektif tanpa konsistensi komunikasi. Dalam banyak kasus, reaksi negatif pasar justru muncul bukan karena perubahan kebijakan itu sendiri, melainkan karena perbedaan pesan yang disampaikan oleh pejabat ekonomi.
Investor global membaca setiap pernyataan publik sebagai sinyal kebijakan. Karena itu, konsolidasi narasi ekonomi menjadi kebutuhan mendesak.
Pemerintah perlu memastikan bahwa komunikasi terkait pasar modal, fiskal, maupun program strategis disampaikan secara teknokratis, berbasis data, dan tidak emosional. Pasar cenderung merespons positif pada pemerintah yang terlihat tenang dan terukur dalam menghadapi tekanan.
3. Penguatan Kredibilitas Institusi Ekonomi
Di saat yang sama, kepercayaan investor juga sangat ditentukan oleh kredibilitas institusi ekonomi. Bank sentral yang independen, otoritas fiskal yang disiplin, serta regulator pasar yang transparan menjadi fondasi utama persepsi risiko suatu negara.
Penguatan peran teknokrat dalam komunikasi ekonomi akan membantu menggeser perhatian pasar dari dinamika politik jangka pendek menuju fundamental ekonomi. Transparansi data fiskal dan pembiayaan proyek besar juga penting untuk memastikan bahwa investor memiliki informasi yang cukup dalam menilai risiko secara objektif.
4. Kepastian Langsung ke Investor Global
Upaya pemulihan kepercayaan juga tidak bisa hanya dilakukan di dalam negeri. Investor global perlu diyakinkan secara langsung melalui engagement yang aktif.
Dialog dengan fund manager internasional, pertemuan dengan investor di pusat keuangan dunia, serta penyampaian data makro terkini menjadi cara efektif untuk mengoreksi persepsi yang mungkin terbentuk dari laporan atau pemberitaan yang tidak lengkap.
Dalam konteks ini, tujuan utamanya bukan sekadar menjelaskan kondisi Indonesia, tetapi mengembalikan narasi pertumbuhan jangka panjang Indonesia.
5. Percepatan Reformasi Struktural yang Terlihat
Meski demikian, komunikasi tanpa perbaikan nyata tidak akan bertahan lama. Investor global selalu mencari sinyal reformasi yang konkret. Penyederhanaan regulasi investasi, kepastian hukum proyek, serta peningkatan efisiensi BUMN merupakan contoh langkah yang dapat langsung terbaca oleh pasar sebagai perbaikan struktural.
Reformasi yang konsisten, meskipun tidak spektakuler, justru lebih dipercaya dibandingkan perubahan besar yang tidak berkelanjutan.
6. Pengelolaan Risiko Politik dan Persepsi Pasar
Faktor lain yang sering luput diperhatikan adalah bagaimana pasar membaca risiko politik. Ketika muncul kesan adanya perbedaan arah atau ketegangan di level elite pengambil kebijakan, investor cenderung menaikkan persepsi risiko meskipun fundamental ekonomi tidak berubah.
Oleh karena itu, stabilitas komunikasi antar pemangku kepentingan menjadi penting agar pasar melihat adanya kesatuan arah dalam pengelolaan ekonomi nasional. Program sosial berskala besar pun perlu dikomunikasikan dengan transparansi fiskal agar tidak dipersepsikan sebagai sumber tekanan baru terhadap anggaran negara.
7. Strategi Komunikasi Mengubah Momentum Negatif
Pemulihan kepercayaan investor global bukanlah proses instan. Strategi yang paling efektif justru bukan menyangkal sorotan dari lembaga internasional, melainkan meresponsnya secara rasional dan terbuka.
Mengakui catatan sebagai bagian dari evaluasi, sekaligus menunjukkan langkah korektif yang terukur, akan memberi sinyal bahwa Indonesia berada dalam fase penyesuaian, bukan dalam kondisi krisis.
Dalam logika pasar global, negara yang responsif dan konsisten hampir selalu lebih cepat mendapatkan kembali kepercayaan dibandingkan negara yang defensif.
Kepercayaan investor bukan dibangun oleh satu kebijakan, tetapi oleh kesinambungan sikap. Ketika arah fiskal jelas, komunikasi stabil, institusi kuat, dan reformasi berjalan, maka sorotan negatif akan berubah menjadi momentum koreksi yang justru memperkuat posisi Indonesia dalam peta investasi global.
Jakarta, 12 Februari 2026





