
JAKARTA, LIRATV.ID— “Yang saya hormati dan saya banggakan Panglima Komando Resimen Mahasiswa, Bapak/Ibu anggota Komando Resimen Mahasiswa, yg sy cintai dan sy banggakan,
Siang ini tgl 2 Feb 2026, kita lanjutkan acara kita dengan Rapimnas II, “Transformasi TRIP Menjadi Komenwa Indonesia yg tangguh, profesional, dan berintegritas” Rapimnas akan diganti Rakomnas.
Pagi tadi kita berdiri di Taman Makam Pahlawan Kalibata, sebuah medan sunyi yang justru paling lantang berbicara tentang makna pengabdian. Di tempat itulah sejarah bangsa tidak ditulis dengan tinta, tetapi dengan darah, keberanian, dan disiplin juang.
Tujuh puluh sembilan tahun yang lalu, para mahasiswa yang tergabung dalam Tentara Republik Indonesia Pelajar mengambil keputusan strategis: tidak sekadar belajar tentang kemerdekaan, tetapi mempertahankannya dengan senjata di tangan. Mereka memahami satu hal mendasar: bahwa kemerdekaan tanpa kesiapsiagaan adalah ilusi, dan kedaulatan tanpa pengorbanan adalah kehampaan.
Hari ini, estafet sejarah itu berada di tangan kita.
Kita mungkin telah purna sebagai mahasiswa. Kita mungkin telah beralih peran sebagai profesional, akademisi, aparatur negara, atau anggota masyarakat. Namun satu identitas tidak pernah gugur: kita adalah bagian dari sistem pertahanan semesta bangsa. Dan di dalam sistem itu, KOMENWA memiliki posisi historis sekaligus strategis.
Saudara-saudara sekalian,
Lingkungan strategis yang kita hadapi hari ini jauh lebih kompleks dibandingkan era perjuangan fisik dahulu. Ancaman terhadap negara tidak selalu datang dalam bentuk pasukan bersenjata, tank, atau kapal perang. Justru yang paling berbahaya adalah ancaman yang tidak terdengar, tidak terlihat, tetapi melumpuhkan dari dalam.
Kita menghadapi ancaman non-militer yang sistemik: disrupsi informasi, perang siber, infiltrasi ideologi transnasional, delegitimasi negara melalui disinformasi, serta polarisasi sosial yang sengaja dipelihara untuk melemahkan kohesi nasional.
Medan perangnya kini berpindah.
Dari hutan dan parit ke ruang digital.
Dari senjata api ke narasi dan persepsi.
Dari serangan frontal ke perang kesadaran dan ideologi.
Dalam konteks ini, KOMENWA tidak boleh diposisikan hanya sebagai simbol sejarah. KOMENWA harus dipahami sebagai cadangan strategis pertahanan negara di domain non-kinetik. Kekuatan KOMENWA terletak pada disiplin, intelektualitas, dan loyalitas ideologis terhadap Pancasila dan NKRI.
Ancaman siber bukan sekadar soal teknologi, tetapi soal siapa yang menguasai pikiran generasi muda. Ancaman ideologi bukan soal perbedaan pandangan, tetapi soal upaya sistematis menggantikan dasar negara dan merusak legitimasi konstitusi. Dan ancaman non-militer bukan ancaman kelas dua, ia justru sering menjadi pembuka jalan bagi keruntuhan negara tanpa satu peluru pun ditembakkan.
Oleh karena itu, saya tegaskan:
KOMENWA harus menjadi garda kesadaran nasional.

KOMENWA harus hadir sebagai penyangga ideologi negara.
KOMENWA harus mampu membaca ancaman, (Menwa identik dg Akademisi), bukan hanya merespons krisis.
Pengabdian hari ini menuntut bentuk baru:
keteladanan di ruang publik, dimulai dari diri sendiri, disiplin
keteguhan di ruang digital,
dan keberanian moral di tengah arus yang mencoba mengaburkan batas antara benar dan salah bagi bangsa ini.
Akhir kata, kita perlu menyatakan sikap dengan tegas: pengabdian ini belum selesai.
Medannya berubah, tetapi sumpahnya tetap sama.
Kami, Komando Resimen Mahasiswa,
siap menjaga Indonesia,
bukan hanya dari serangan senjata,
tetapi dari segala upaya yang menggerogoti kedaulatan, persatuan, dan jati diri bangsa.
Terima kasih. (Redsus)
Jayalah Indonesia! Jayalah KOMENWA!
Merah Putih di dadaku, NKRI harga mati!
Widya Castrena Dharma Siddha!
KOMENWA, … WCDS
Laksda TNI Purn Dr Surya Wiranto SH.,MH.
Hai pembaca setia! Temukan solusi media online Anda di 





