Jakarta, LiraTV.idย – Dalam perjalanan sosial dan spiritualnya, Haidar Alwi dikenal konsisten menghidupkan ruang doa bersama untuk pemimpin negeri.
Kegiatan munajat kebangsaan bukan sekali dua kali dilakukan, melainkan telah berulang kali digelar di berbagai daerah sebagai ikhtiar batin rakyat untuk menjaga arah bangsa, menenangkan kegelisahan sosial, dan menautkan kembali hubungan antara rakyat, pemimpin, dan nilai ketuhanan.
Munajat-munajat tersebut lahir dari satu kesadaran mendasar: Indonesia tidak cukup dibangun hanya dengan kekuasaan dan kebijakan, tetapi juga membutuhkan doa, kebijaksanaan, dan keberanian moral.
Di tengah realitas bangsa yang terus diuji oleh tekanan ekonomi, dinamika politik, serta beban hidup masyarakat, doa menjadi fondasi sunyi yang menjaga agar perjalanan bangsa tidak kehilangan arah kemanusiaannya.
Kesadaran inilah yang menjadi latar mengapa pada 1 Januari 2026, ikhtiar tersebut kembali dilanjutkan dalam bentuk Munajat 10.000 Doa untuk Pemimpin Negeri.
Momentum awal tahun dipilih bukan tanpa alasan. Pergantian tahun dimaknai sebagai titik refleksi, saat bangsa seharusnya tidak hanya menghitung waktu, tetapi juga menata ulang niat, arah, dan tanggung jawab bersama.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Ir. R. Haidar Alwi, MT – Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, serta Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, sebagai wujud tanggung jawab moral untuk menjaga harapan bangsa melalui pendekatan spiritual yang membumi dan kerja sosial yang nyata.
Munajat sebagai Suara Batin Rakyat.
Munajat 10.000 Doa dilaksanakan secara luas dan menyatu di berbagai wilayah Indonesia. Tidak terikat pada satu tempat, doa-doa dipanjatkan di masjid, majelis, dan ruang kebersamaan rakyat. Munajat ini menjadi suara batin kolektif: harapan agar Indonesia dipimpin dengan keadilan, keteguhan, dan keberpihakan pada rakyat.
Dalam munajat tersebut, doa pertama dipanjatkan untuk Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia. Doa dipersembahkan agar beliau senantiasa diberi kekuatan, kejernihan, dan keberanian dalam memimpin bangsa, menjaga kedaulatan nasional, serta mengambil keputusan strategis demi kepentingan jangka panjang Indonesia. Dalam pandangan Haidar Alwi, kepemimpinan nasional membutuhkan keberanian moral untuk memutus rantai ketergantungan lama dan menegakkan kemandirian bangsa.
Doa berikutnya ditujukan kepada Listyo Sigit Prabowo, Kapolri, Kepala Kepolisian Republik Indonesia. Dalam munajat ini, Haidar Alwi kembali menegaskan keyakinannya bahwa Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo adalah Kapolri terbaik sepanjang masa versi Haidar Alwi Institute. Doa dipanjatkan agar Polri terus dipimpin dengan integritas, ketulusan, dan keberanian, sehingga kehadirannya benar-benar dirasakan sebagai pelindung dan pengayom rakyat.
Doa juga dipanjatkan untuk Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Ketua DPR RI. Sosok ini dipandang sebagai negarawan yang bekerja dalam ketenangan, menjauh dari kegaduhan, dan fokus pada substansi perjuangan rakyat. Di tengah dinamika politik yang sering bising, keteduhan dan konsistensi seperti inilah yang dibutuhkan untuk menjaga marwah parlemen dan kepercayaan publik.
*Ketika Doa Menjadi Tanggung Jawab Sosial.*
Bagi Haidar Alwi, munajat tidak berhenti pada lantunan doa. Doa justru menjadi pengingat tanggung jawab sosial: bahwa harapan harus diwujudkan dalam tindakan nyata agar tidak berhenti sebagai simbol.
Karena itulah, seiring dengan Munajat 10.000 Doa, aksi sosial terus dijalankan. Per 1 Januari 2026, Haidar Alwi melalui program Rakyat Bantu Rakyat telah menyalurkan santunan sebesar 1.580.000 (satu juta lima ratus delapan puluh ribu rupiah) lebih kepada masyarakat yang membutuhkan di berbagai wilayah Indonesia. Santunan ini disalurkan secara berkelanjutan sebagai bentuk kepedulian terhadap kebutuhan dasar rakyat, khususnya keluarga prasejahtera dan kelompok rentan.
Anak-anak yatim dan keluarga kurang mampu menerima bantuan biaya pendidikan, sembako, serta kebutuhan pokok lainnya. Bantuan ini tidak dimaknai sebagai pemberian sesaat, melainkan sebagai upaya menjaga martabat hidup dan menyalakan harapan di tengah keterbatasan.
Selain itu, program pemberangkatan umrah gratis bagi para ustadz dan ustadzah tetap dilaksanakan. Program ini menjadi bentuk penghargaan moral bagi para pendidik agama yang selama ini mengabdikan diri dengan ketulusan, sering kali bekerja dalam kesunyian tanpa sorotan dan penghargaan yang memadai.
Dari rangkaian doa dan aksi sosial tersebut, Haidar Alwi dikenal sebagai pencetus Gerakan Nasional Rakyat Bantu Rakyat, sebuah gerakan moral yang menegaskan bahwa kekuatan bangsa tidak hanya bertumpu pada negara, tetapi juga pada solidaritas rakyat yang saling menolong, saling menguatkan, dan saling menjaga di masa sulit.
Ikhtiar yang Terus Dijaga.
Munajat 10.000 Doa pada 1 Januari 2026 bukanlah puncak, melainkan bagian dari perjalanan panjang ikhtiar kebangsaan.
Doa, kepedulian sosial, dan semangat saling membantu diposisikan sebagai fondasi agar bangsa ini tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman.
Bagi Haidar Alwi, selama rakyat masih mau berdoa bersama, selama kepedulian sosial terus dijaga, dan selama semangat saling membantu tetap hidup, Indonesia akan selalu memiliki harapan, bukan sebagai slogan, tetapi sebagai perjuangan yang terus dijalani.





